Twitter

About Me



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
Dari zaman dahulu, pengumpulan data statistik sudah digunakan untuk mendapatkan suatu informasi deskriptif mengenai banyak hal, misalnya perang, pajak, hasil pertanian dan bahkan pertandingan atletik juga menggunakan statistik deskriptif. Karena dari pengolahan data ini mereka bisa mendapatkan kesimpulan dari data penelitian yang mereka lakukan.
Melainkan pada masa kini, semuanya telah berkembang dan mengalami kemajuan dengan cara teori peluang, kita dapat menggunakan berbagai metode statistik yang membuat kita bisa melihat lebih jauh dari data yang telah kita kumpulkan dan memasukkannya kedalam pengambilan keputusan melalui generalisasi dan peramalan.
Statistik Deskriptif merupakan bidang ilmu satistika yang mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan dan penyajian data suatu penelitian. Data-data bisa diperoleh dari hasil sensus, survey atau pengamatan lainnya. Semua itu bertujuan untuk memudahkan kita dalam mendapatkan suatu informasi
Selain itu, statistik deskriptif juga merupakan metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu data gugus sehingga memberikan informasi yang berguna bagi penghitungan data yang kita lakukan.
Perlu dimengerti bahwa statistika deskriptif memberikan informasi hanya mengenai data yang dipunyai dan sama sekali tidak menarik inferensia atau kesimpulan apapun tentang gugus data induknya yang lebih besar. Penyusunan tabel, diagram, grafik dan  besaran-besaran lain di majalah dan koran, termasuk dalam kategori statistika deskriptif.



1.2.TUJUAN PRAKTIKUM
·         Mengubah kumpulan data mentah menjadi mudah dipahami dalam bentuk informasi yang lebih ringkas
·         Dapat mengambil kesimpulan pada suatu kumpulan data
·         Dapat mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan dan penyajian dari suatu data penelitian
1.3.ALAT DAN BAHAN
1.      Set data
2.      Komputer
3.      Program SPSS
4.      Kalkulator
1.4.BATASAN MASALAH
Mendapatkan informasi pada suatu kumpulan data mentah dengan menggunakan metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus. Data ini dapat di peroleh dari hasil sensus, survey atau pengamatan lainnya.
1.5.SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
1.2  Tujuan Praktikum
1.3  Alat dan Bahan
1.4  Batasan Masalah
1.5  Sistematika Penulisan
Bab II Landasan Teori
Berisikan teori-teori pendukung tentang statistik deskriptif, seperti pengertian, karakteristik, rumusan-rumusan yang digunakan dalam statistik deskriptif dan penggunaan dari statistik deskriptif itu sendiri.
Bab III Pengumpulan Data
Berisikan data tunggal dan data kelompok
Bab IV Pengolahan Data
berisikan tentang:
Pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan komputer dan secara manual.
Bab V Analisa Data
Berisikan tentang analisa data dari hasil pengolahan data yang dilakukan dimana analisis tersebut harus sesuai dengan pengolahan data.
Bab VI Penutup
berisikan tentang kesimpulan dan saran dari praktikum yang kita lakukan.














BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 PENGERTIAN STATISTIKA DESKRIPTIF
Statistik Deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Dan analisa deskriptif bertujuan mengubah kumpulan data mentah menjadi mudah di pahami dalam bentuk informasi yang lebih ringkas. Statistik deskriptif merupakn bidang ilmu statistika yang memeprlajari cara-cara pengumpulan, penyusunan dan penyajian data suatu penelitian.
Data-datanya bisa diperoleh dari hasil sensus, survei atau pengamatan lainnya. Umumnya masih acak, harus diringkas dengan baik dan teratur, baik dalam bentuk tabel atau persentase grafis. Statistik deskriptif merupakan dasar pengambilan keputusan bagi Statistik Inferensia. Statistik Inferensia adalah semua metode yang berhubungan dengan analisis sebagian data untuk kemudian sampai pada peramalan atau penarikan kesimpulan mengenai keseluruhan gugus data induknya.
Statistik inferensia ini dapat menarik kesimpulan dari data penilitian yang dilakukannya. Generalisasi yang berhubungan dengan inferensia statistik selalu mempunyai sifat tak pasti, karena kita mendasarkan pada informasi parsial yang diperoleh dari sebagian data. Untuk menghitung ketidakpastian ini, pengetahuan mengenai teori peluang mutlak diperlukan.
Dua ukuran penting yang sering di pakai dalam prngambilan keputusan adalah:
1.      Mencari central tendency (kecenderungan terpusat) seperti Mean, Median,Modus dan lainnya.
Sembarang ukuran yang menunujukkan pusat segugus data yang telah diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar atau sebaliknya dari terbesar sampai terkecil, disebut ukuran lokasi pusat atau ukuran pemusatan. Ukuran pemusatan yang paling banyak digunakan adalah nilai tengah, median dan modus.
·           Mean adalah nilai rata-rata dari hasil observasi terhadap suatu variabel dan merupakan jumlah dari seluruh hasil observasi dibagi dengan jumlah observasinya, dan juga menyusun sebuah populasi terhingga berukuran N
Rumus x = ∑ x / n
X    = nilai rata-rata observasi
∑ x = jumlah semua hasil observasi
N    = jumlah observasi
Jadi, jika semua pengamatan digandakan atau dibagi dengan suatu konstanta, data yang baru itu akan mempunyai mean yang sama dengan kelipatan konstanta dari mean yang semula.
·           Modus mengganbarkan  nilai yang paling sering muncul atau memiliki frekuensi terbanyak.
Jika ada data: 5, 5, 6, 7, 2, 6, 5, 4, 1, 5. Modusnya merupakan angka 5.
Modus tidak selalu ada. Hal ini terjadi bila semua pengamatan mempunyai frekuensi terjadi yang sama. Untuk data tertentu, mungkin saja terdapat beberapa nilai dengan frekuensi tertinggi, dan dalam hal demikian kita mempunyai lebih dari satu modus.
Untuk gugus data yang kecil manfaat modus hampir atau bahkan tidak ada sama sekali. Hanya dalam hal data yang banyak ukuran ini dapat diterapkan. Ada dua sifat baiknya, yaitu:
1.        Tidak memerlukan perhitungan
2.        Dapat digunakan bagi data kualitatif maupun kuantitatif.
·           Median mengukur nilai tengah dengan membagi jumlah observasi secara seimbang dari atas ke bawah atau merupakan persentil ke lima puluh. Jika ada urutan data : 4 5 6 6 6 6 7 8 8. Maka mediannya adalah 6.
Median bisa dipengaruhi oleh nilai ekstrem, sehingga memberikan rata-rata yang lebih besar. Selain itu, median merupakan segugus data yang telah diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar atau terbesar keterkecil adalah pengamatan yang tepat di tengah-tengah bila banyaknya pengamatan itu ganjil, atau rata-rata kedua pengamatan yang di tengah bila banyaknya pengamatan genap.
2.      Mencari ukuran dispersi seperti standard deviation, variance. Variance dari sejumlah observasi adalah rata-rata kuadrat deviasi data dari rata-ratanya. Rumus untuk variance sampel adalah:
S² =
Standar deviasi adalah akar (positif) dari variance. Rumus untuk standar deviasi dari suatu sampel adalah:
s =
3.      Selain central tendency dan dispersion, ukuran lain yang di pakai adalah Skewnees dan Kurtosis untuk mengetahui keruncingan / kelandaian data.
Skewness dihitung dan dilaporkan sebagai angka yang mungkin positif, negaif atau nol. Skewness nol mengindikasikan distribusi simetrik. Skewness positif mengindifikasikan distribusi yang condong kekanan. Skewness negatif mengindifikasikan distribusi yang condong ke kiri. Skewness juga terbagi dua, yaitu:
1.      Skewness  modus
2.      Skewness median
Kurtosis adalah pengukuran keruncingan distribusi. Semakin besar kurtosis, semakin keruncingan akan didistribusikan. Kurtosis di hitung dan dilaporkan baik sebagai absolute maupun nilai relative. Nilai absolute selalu angka positif. Rumus dari kurtosis adalah:
4.      Histrogram adalah chart yang terdiri dari diagram batang dengan tinggi yang berbeda-beda. Tinggi masing-masing batang mewakili nilai frekuensi dalam kelas yang diwakili oleh diagram batang.
Statistik Deskriptif terbagi 2, yaitu:
1.      Data Tunggal
2.      Data Berkelompok
Diagram batang sangat cocok untuk menggambarkan perkembangan nilai-nilai dari suatu objek penelitian dalam jangka waktu tertentu. Biasanya, diagram batang disusunun secara vertikal. Apabila pada diagram histogram diperoleh diagram seperti segi empat, itu dinamakan polygon frekuensi. Poligon frekuensi dibentuk dengan memplotkan frekwensi kelas terhadap titik tengah kelas.Poligon frekuensi merupakan bangun bersisi banyak yang tertutup. Untuk menutup polygon frekuensi kita memerlukan sebuah selang kelas tambahan yang ditambahkan pada kedua ujung sebaran, masing-masing dengan frekuensi nol.
Untuk data berkelompok ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kelas bagi distribusi frekuensi yaitu: jumlah kelas, lebar kelas dan batas kelas.
Selain itu statistika deskriptif  juga berkenaan dengan bagaimana data dapat digambarkan (dideskripsikan) atau disimpulkan baik secara numerik (misal menghitung rata-rata dan deviasi standar) atau secara grafis (dalam bentuk tabel atau grafik) untuk mendapatkan gambaran sekilas mengenai data tersebut sehingga lebih mudah dibaca dan bermakna.
Pada statistik deskriptif kita juga bisa mempelajari sebaran frekuensi yang menghitung banyaknya pengamatan yang masuk kedalam setiap kelas, dengan mengelompokkan data kedalam beberapa kelas. Data yang disajikan dalam bentuk sebaran frekuensi dikatakan sebagai data yang telah dikelompokkan.
5.      Distribusi Frekuensi
Pada suatu penyelidikan didapat banyak macam data, kemudian dikelompokkan dalam suatu tabel yang diberi nama tabel distribusi frekuensi. Untuk menyelidiki data yang seperti ini, dikelompokkan lagi kedalam kelompok-kelompok kecil yang dinamakan dengan interval, sehinnga didapatkan beberapa buah kelompok kecil yang dinamakan dengan kelas interval.
Lebar kelas pada suatu kelas didefenisikan sebagai selisih antara batas atas kelas dengan batas bawah kelas bagi kelas bersangkutan. Biasanya kita menyukai kelas-kelas tersebut memiliki lebar kelas yang sama. Dalam hal demikian lebar kelas tersebut akan kita lambangkan dengan c. Semakin sedikit banyaknya data, semakin sedikit pula banyaknya kelas yang diambil.
Pada modul I kita juga bisa menghitung Range (jangkauan data)
Jangkauan data adalah selisih antara data yang tertinggi dengan data yang terendah. Rumusnya adalah:
R = nilai maksimum – nilai minimum
Dan banyaknya kelas juga bisa dihitung dengan rumus:
B = 1 + 3,22 log N
Selain range dan banyaknya kelas, kita juga menghitung panjang kelas dari suatu frekuansi dengan menggunakan rumus:
Masih ada beberapa ukuran lokasi lain yang menjelaskan data relatife terhadap keseluruhan data. Ukuran-ukuran tersebut yang sering disebut persentil, desil dan kuartil.
Ø  Persentil adalah nilai-nilai yang membagi segugus pengamatan menjadi 100 bagian yang sama. Nilai-nilai itu dilambangkan dengan P1, P2, ……, P99, bersifat bahwa 1% dari seluruh data terletak dibawah P1, 2% terletak dibawah P2, ………, dan 99% terletak dibawah P99.
Meskipun kita selalu dapat menentukan persentil dari data asalnya, mungkin lebih memudahkan dan menghemat waktu bila kita menentukannya langsung dari sebaran frekuensinya.
Untuk menghitung persentil dari sebaran frekuensi, kita mengasumsikan bahwa pengamatan dalam setiap selang kelas menyebar merata antara batas bawah dan batas atas kelas. Mencari persentil dengan rumus:
Ø  Desil adalah nilai-nilai yang membagi segugus pengamatan menjadi 10 bagian yang sama. Nilai-nilai itu dilambangkan dengan D1, D2, ……, D9, mempunyai sifat bahwa 10% data jatuh dibawah D1, 20% jatuh dibawah D2, ….., 90% jatuh di bawah D9.
Cara menghitung desil adalah dengan rumus:
Ø  Kuartil adalah nilai-nilai yang membagi segugus pengamatan menjadi 4 bagian yang sama besar. Nilai-nilai itu yang dilambangkan dengan Q1, Q2, dan Q3 mempunyai sifat bahwa 25% data jatuh dibwah Q1, 50% jatuhdi bawah Q2, dan 75% jatuh di bawah Q3.
Nilai-nilai pada kuartil dinyatakan dngan:
o   Q1 (Kuartil 1)  Kuartil bawah
o   Q2 (Kuartil 2) Kuartil tengah
o   Q3 (Kuartil 3) Kuartil atas
Untuk mencari kuartil bawah caranya adalah dengan menentukan median dari suatu data yang kurang dari kuartil tengah dan untuk mencari kuartil atas adalah dengan menggunakan median dari semua data yang lebih dari kuartil tengah.

rumus kuartil adalah:
Dalam distribusi frekuensi data dikelompokkan dalam beberapa kelas interval misalnyaa±b, c-d dan seterusnya. Ada beberapa istilah yang digunakan dalam distribusi frekuensi, yaitu:
1.      Limit kelas atau ujung kelas yaitu nilai-nilai terkecil dan terbesar dalam setiap kelasinterval. Nilai terbesar disebut sebagai limit atas kelas dan nilai terkecil disebutsebagai limit bawah kelas.
2.      Batas kelas yaitu limit kelas setengah nilai skala terkecil. Nilai yang besar disebut batas atas kelas dan nilai yang kecil disebut sebagai batas bawah kelas.3.
3.      Titik tengah kelas atau tanda kelas yaitu nilai yang terletak pada tengah setiap kelasinterval.
Dari distribusi frekuensi, cara menentukan batas-batas kelas dengan cara:
a.       TBK = BBK – 0,5
b.      TAK = BAK + 0,5
Cara menentukan frekuensi adalah dengan cara menggunakan bantuan kolom tabulasi.
Karena itu statistika deskriptif bermaksud menyajikan, mengolah dan menganalisa data dari kelompok tertentu sebagaimana adanya dan tidak bermaksud menarik kesimpulan-kesimpulan yang berlaku bagi kelompok-kelompok yang lebih besar. Artinya kesimpulan yang ditarik melalui deskriptif hanya berlaku bagai kelompok sampel yang bersangkutan tanpa dimaksudkan menarik kesimpulan yang berlaku bagi populasi.
Ukuran statistik yang lazim digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik sampel ialah: ukuran kecenderungan sentral, Ukuran variansi, Ukuran letak, koefisien korelasi. Sekalipun statistika deskriptif ini hanya menyajikan karakteristik sampel, namun statistika deskriptif merupakan dasar untuk mengkaji dan melakukan inferensi karakteristik populasi.
6.      Koefisien Variansi
Penyebaran seberannya dari data seperti yang dilakukan dengan deviasi standar atau penyebaran lainnyadisebut penyebaran mutlak. Namun demikian, suatu variansi sebesar 1 meter dalam mengukur jarak 1000 meter, sangat berbeda artinya dengan variansi 1 meter untuk jarak 20 meter.
Oleh karena itu, untuk membedakannya kita gunakan ukuran yang disebut penyebaran relative yang dirumuskan sebagai berikut:
Penyebaran relatif = penyebaran mutlak
                              Nilai rata-rata
Itu rumus yang bisa kita gunakan untuk mencari penyebaran relative.
















BAB III
PENGUMPULAN DATA
3.1       DATA TUNGGAL
            Data 20 anak dalam menceritakan film dari si peneliti berapa banyak kata yang di keluarkan.
Tabel 3.1 Pengumpulan Data Tunggal
Banyak Anak
Jumlah Kata
1
10
2
12
3
5
4
8
5
13
6
10
7
12
8
8
9
7
10
11
11
11
12
10
13
9
14
9
15
11
16
15
17
12
18
17
19
14
20
10
21
9
22
8
23
15
24
16
25
10
26
11
27
7
28
14
29
11
30
12
Sumber: Pengumpulan Data Lab. Statistik Industri, 2013

3.2       DATA KELOMPOK
Tabel 3.2 Pengumpulan Data Kelompok
Banyak Barang
Juri 1
Juri 2
Juri 3
Juri 4
Juri 5
Juri 6
A
86
70
77
71
70
88
B
70
70
88
88
60
66
C
75
60
77
70
70
66
D
63
60
77
59
60
77
E
55
50
77
60
50
66
Sumber: Pengumpulan Data Lab. Statistik Industri, 2013


BAB IV
PENGOLAHAN DATA

4.1 PENGOLAHAN DATA KOMPUTER
4.1    Pengolahan Data Komputer untuk Data Tunggal N = 30
Tabel 4.1 Pengolahan Data Tunggal
N
Valid
30
Missing
0
Mean
10.9000
Median
11.0000
Mode
10.00a
Std. Deviation
2.82049
Variance
7.955
Skewness
.247
Std. Error of Skewness
.427
Kurtosis
-.143
Std. Error of Kurtosis
.833
Range
12.00
Minimum
5.00
Maximum
17.00
Sum
327.00
Percentiles
25
9.0000
50
11.0000
60
11.0000
70
12.0000
75
12.2500
80
13.8000
90
15.0000
Sumber: Pengolahan Data Komputer Lab. Statistik Industri, 2013





Tabel 4.2  Pengolahan Data Tunggal SPSS


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
5
1
3.3
3.3
3.3
7
2
6.7
6.7
10.0
8
3
10.0
10.0
20.0
9
3
10.0
10.0
30.0
10
5
16.7
16.7
46.7
11
5
16.7
16.7
63.3
12
4
13.3
13.3
76.7
13
1
3.3
3.3
80.0
14
2
6.7
6.7
86.7
15
2
6.7
6.7
93.3
16
1
3.3
3.3
96.7
17
1
3.3
3.3
100.0
Total
30
100.0
100.0

Sumber : Pengolahan Data SPSS, 2013


Gambar 4.1  Histogram Jumlah Kata
Sumber : Pengolahan Data Komputer Lab.Statistik Industri, 2013




Tabel 4.3 Pengolahan Data Kelompok


juri1
juri2
juri3
juri4
juri5
juri6
N
Valid
5
5
5
5
5
5
Missing
0
0
0
0
0
0
Mean
69.8000
62.0000
79.2000
69.6000
62.0000
72.6000
Median
70.0000
60.0000
77.0000
70.0000
60.0000
66.0000
Mode
55.00a
60.00a
77.00
59.00a
60.00a
66.00
Std. Deviation
1.17771E1
8.36660
4.91935
1.16748E1
8.36660
9.83870
Variance
138.700
70.000
24.200
136.300
70.000
96.800
Skewness
.213
-.512
2.236
1.088
-.512
1.258
Std. Error of Skewness
.913
.913
.913
.913
.913
.913
Kurtosis
-.221
-.612
5.000
1.134
-.612
.313
Std. Error of Kurtosis
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
Range
31.00
20.00
11.00
29.00
20.00
22.00
Minimum
55.00
50.00
77.00
59.00
50.00
66.00
Maximum
86.00
70.00
88.00
88.00
70.00
88.00
Sum
349.00
310.00
396.00
348.00
310.00
363.00
Percentiles
25
59.0000
55.0000
77.0000
59.5000
55.0000
66.0000
50
70.0000
60.0000
77.0000
70.0000
60.0000
66.0000
60
73.0000
66.0000
77.0000
70.6000
66.0000
72.6000
70
77.2000
70.0000
79.2000
74.4000
70.0000
79.2000
75
80.5000
70.0000
82.5000
79.5000
70.0000
82.5000
80
83.8000
70.0000
85.8000
84.6000
70.0000
85.8000
90
86.0000
70.0000
88.0000
88.0000
70.0000
88.0000
Sumber: Pengolahan Data SPSS, 2013





Tabel 4.4 Frekuensi Juri 1


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
55
1
20.0
20.0
20.0
63
1
20.0
20.0
40.0
70
1
20.0
20.0
60.0
75
1
20.0
20.0
80.0
86
1
20.0
20.0
100.0
Total
5
100.0
100.0

Sumber : Pengolahan Data SPSS, 2013
Tabel 4.5 Frekuensi Juri 2


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
50
1
20.0
20.0
20.0
60
2
40.0
40.0
60.0
70
2
40.0
40.0
100.0
Total
5
100.0
100.0

Sumber : Pengolahan Data SPSS, 2013
Tabel 4.6 Frekuensi Juri 3


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
77
4
80.0
80.0
80.0
88
1
20.0
20.0
100.0
Total
5
100.0
100.0

Sumber : Pengolahan Data SPSS, 2013
Tabel 4.7 Frekuensi Juri 4


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
59
1
20.0
20.0
20.0
60
1
20.0
20.0
40.0
70
1
20.0
20.0
60.0
71
1
20.0
20.0
80.0
88
1
20.0
20.0
100.0
Total
5
100.0
100.0

Sumber : Pengolahan Data SPSS, 2013





Tabel 4.8 Frekuensi Juri 5


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
50
1
20.0
20.0
20.0
60
2
40.0
40.0
60.0
70
2
40.0
40.0
100.0
Total
5
100.0
100.0

Sumber : Pengolahan Data SPSS, 2013
Tabel 4.9 Frekuensi Juri 6


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
66
3
60.0
60.0
60.0
77
1
20.0
20.0
80.0
88
1
20.0
20.0
100.0
Total
5
100.0
100.0

Sumber : Pengolahan Data SPSS, 2013

Gambar 4.2  Histogram Juri 1
Sumber : Pengolahan Data Komputer Lab.Statistik Industri, 2013







Gambar 4.3  Histogram Juri 2
Sumber : Pengolahan Data Komputer Lab.Statistik Industri, 2013

Gambar 4.4  Histogram Juri 3
Sumber : Pengolahan Data Komputer Lab.Statistik Industri, 2013

Gambar 4.5  Histogram Juri 4
Sumber : Pengolahan Data Komputer Lab.Statistik Industri, 2013

Gambar 4.6  Histogram Juri 5
Sumber : Pengolahan Data Komputer Lab.Statistik Industri, 2013

Gambar 4.7  Histogram Juri 6
Sumber : Pengolahan Data Komputer Lab.Statistik Industri, 2013


4.2       PENGOLAHAN DATA MANUAL
             a.  1. Rata-rata ( ) :  =  
                                                    =
                                                    =
                 2. Standar deviasi (σ)
 
                         
= 2,773

b.  Tabel  distribusi frekuensi
v  Maks   = 23
v  Min     = 12
R         = nilai max – nilai min
  
         = 17 – 5 =12
c. Banyak kelas
            B =  1 + 3,22 log N
                =  1 + 3,22 log 30
                            =  5,75 ≈ 6
d . panjang kelas
P=  2 ≈ 2,1
4.5 Tabel Distribusi Frekuensi
Ki
Bi
F
i
F . i
( - )2
5 - 7
4,95 – 7,05
3
6
18
-4,9
24,01
72,03
576,4801
7,1 - 9
7,05 – 9,05
6
8,05
218,3
-2,4
5,76
34,56
32,1776
9.1 – 11
9,05 – 11,05
10
10,05
100,5
-0,85
0,7225
7,225
0,522
11,1 - 13
11,05 – 13,05
5
12,05
60,25
1,15
1,3225
6,6125
1,749
13,1 – 15
13,05 – 15,05
4
14,05
56,2
3,15
9.9225
39,69
9,456
15,1 - 17
15,05 – 17,05
2
16,05
32,1
5,15
26,5225
52,045
703,443
Total
30

317,35


213,1625
1413,8278
Sumber : Pengolahan Data Manual Lab.Statistik Industri, 2013
Ø
         =
         = 10,57
Ø Standar Deviasi
 
   = 5,71
Ø Koefisien variansi:
KV =  
  x 100%
      = 0,25%
Ø Modus :
Mo = L +  x p
       = 9,05 +   x 2,1
       = 9,47
Ø Median
 Me = b + p
       = 9,05 + 2,1
       = 10,31
Ø Skewness:
Sk modus        =
                        =
            = 0,415      
Sk median       =
            =
                        = 0.3019
Ø  Kurtosis
 
          =  = 0,9334
Ø Kuartil :
Q1= nilai ke-1
Q1= 1
     = 7,75
Q2= nilai ke-2
     = 2
     =15.55
Q3= nilai ke-3
     = 3
     = 23,25
Ø Desil :
D5 = nilai ke-5
       = 5
       = 15,5
D7 = nilai ke-7
       = 7
       = 21,7
Ø Persentil :
P50 = nilai ke-50
       = 50
       = 15,5
P60 = nilai ke-60
       = 60
       = 18,6
P70 = nilai ke-70
       = 70
       = 21,7
P80 = nilai ke-80
       = 80
       = 24,8
P90 = nilai ke-90
       = 90
       = 27,9





BAB V
ANALISA DATA

5.1       ANALISA DATA KOMPUTER
5.1.1        Analisa untuk Data Tunggal n = 30

Praktikum  yang dilaksanakan pada modul I adalah suatu kegiatan yang dilakukan praktikan untuk mengolah data 30 data yang telah diberikan. Dan ada pula data tersebut merupakan 30 data adalah banyak kata yang dikeluarkan. Data ini diolah dengan computer menggunakan program SPSS 1.6.
Pada data tunggal dapat kita peroleh informasi sebagai berikut:
-                     Data maksimum       : 17
-                     Data minimum          : 5
-                     Mean                        : 10,9
-                     Median                     : 11
-                     Modus                       : 10
5.2       ANALISA DATA MANUAL
5.2.1    Analisa untuk Data Tunggal n = 30
            Pada pengolahan data manual ini praktikan menggunakan tulisan tangan dalam mencari hasil dari pengolahan data. Dengan menggunakan kalkulator dalam melakukan pengolahan nya.
-                      Hasil yang didapatkan praktikan adalah:
·           Mean        : 10,9
·                         : 10,57
·           Modus      : 9,98
·           Median     : 10,31
·           KV           : 0,25%
·           SK modus            : 0,41
·           SK median: 0,3019
·           Kurtosis    : 0,9334

5.3       PERBANDINGAN DATA MANUAL DENGAN DATA KOMPUTER
            Dilihat dari hasil yang didapat dari pengolahan data manual dan pengolahan komputer terdapat perbedaan hasil da nada juga hasil yang sama.
            Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan pada pembagian banyak kelas. Tapi perbedaannya tidaklah jauh berbeda, perbedaannya hanya terletak pada pembulatan angka di belakang koma.
            Contoh perbedaan yang dapat kita lihat dari hasil pengolahan data manual dan pengolahan data komputer:
Tabel 5.1 perbandingan Data Manual Dan Data Komputer

Data Manual
Data Komputer
Mean
10,9
10,9
Median
11
10,31
Modus
10
9,98
Standar deviasi
2,773
2,82049
Range
12
12
Min
5
5
max
17
17
Sumber: Pengolahan Data Lab. Statistik Industri, 2013














BAB VI
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
       Dari hasil perhitungan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hasil dari perhitingan manual dengan program SPSS.16 tidak jauh berbeda. Pada perhitungan SPSS.16 data-data tersebut di bulatkan. Kedua hasil tersebut hampir sama seperti pencarian nialai mean, median, modus, kuartil dan standar deviasi.
       Praktikan juga dapat mengetahui aplikasi dari statistika deskriptif itu sendiri. Juga dapat melakukan perhitungan frekuensi dengan menggunakan metode tabulasi.
       Praktikan juga telah dapat melakukan pengolahan data dengan cara manual maupun dengan menggunakan komputer dengan bantuan program SPSS 1.6.
6.2 SARAN
-          Sebelum melakukan praktikum, peraktikan terlebih dahulu harus memahami modul yang akan di bahas.
-         Pada saat pengolahan data manual, peraktikan harus sangat teliti dalam mencari hasil. Apabila salah sedikit akan berakibat fatal dan mempengaruhi data-data selanjutnya.
-         Praktikan harus lebih serius dalam mengikuti kegiatan praktikum
-         Pengumpulan data yang dilakukan belom sepenuhnya dilakukan oleh praktikan.









DAFTAR PUSTAKA
Modul praktikum laboratorium statistik industri periode genap 2012 / 2013.
Walpole, Ronald E, Raynond H. Myers : Probability and Statistic for Engeenering and scientist, 3rd ED, Macmillan Publ. Co, New York, 1985
Dr. Sri Adiningsih : Statistik, Ed-1, V6M, Yogyakarta, 1993






Prediksi PSG vs Barcelona liga champions 3 April


Jadwal Liga Champions - Duel tersaji pada laga 3 April 2013 nanti, yaitu antara Paris Saint Germain vs Barcelona. Adu mewakili negara Perancis vs Spanyol.

Pertarungan ini juga pertarungan elektabilitas adu gengsi pemain dan keuangan di club. Sudah diketahui banyak orang bahwasanya klub ibu kota Perancis tersbut memiliki segudang pemain bintang, sebut saja bintang lapangannya Zlatan Ibrahimovic.

Messi vs Ibrahimovic
Messi vs Ibrahimovic

Pertarungan Barcelona vs PSG(Paris Saint Germain) akan disiarkan di SCTV LIVE pada pukul 01:30, tanggal 3 April 2013 waktu Indonesia. Digelar di Parc des Princes Stadium, kandang PSG.

Barcelona yang akan bertandang ke PSG menuntut kemenangan gol tandang. Peforma puncak pemain EL BARCA, sebut saja David Villa kali ini berjanji akan membwa timnya menang di perempat final liga champion 2013.

Di kubu PSG sendiri, klub yang bertabur bintang ini akan beradu gengsi baik skill dan mental dengan para pemain terlatih Barca.

Prediksi: PSG 0 vs 2 Barcelona

Jadi mampukah menurut prediksi PSG vs Barcelona. PSG unggul di kandang sendiri? Kita tunggu saja pertandingan PSG vs Barcalona liga champions 3 April 2013. Tuliskan komentar anda tentang pertandingan ini di kotak komentar bawah.

Sekian info olahraga dari kami, semoga bermanfaat - Prediksi PSG vs Barcelona liga champions 3 April

Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat ( Ki Hadjar Dewantara ) menginisiasi penerbitan Majalah Hindia Poetra oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda.
Pergerakan Hatta dalam Indische Vereeniging tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan, sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan Kepulauan Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme Hindia-Belanda.
Hatta mengawali karier pergerakannya di Indische Vereeniging sebagai bendahara pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging menyatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie.
F.Hatta Bergabung Dengan Imperialisme Dan Kolonialisme.
Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda. Dan dari sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.
G.Hatta Kembali Ke Indonesia.
Pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Bandaneira selama 6 tahun.
Pada tanggal 9 Maret 1943 setelah datangnya militer Jepang ke Indonesia, Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dimana Hatta dan Soekarno ditunjuk sebagai ketuanya. Soekarno berpikir bahwa ini akan menjadi cara agar mereka bisa mendapatkan dukungan bagi kemerdekaan Indonesia. Pada bulan November 1943, usaha Hatta dan Soekarno untuk bekerja sama dengan pemerintah Jepang diakui oleh Kaisar Hirohito yang dihiasi dengan penghargaan di Tokyo.
Setelah gelombang Perang Pasifik mulai berbalik dengan kekalahan yang dialami oleh tentara Jepang, pemerintah Jepang membubarkan Putera dan diganti dengan Djawa Hokokai pada Maret 1944. Ketika kekalahan mulai membayang di pihak Jepang, Perdana Menteri Koiso Kuniaki mengumumkan pada bulan September 1944 bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan Indonesia dalam waktu dekat.
Sejak saat itu momentum mulai berkumpul untuk kemerdekaan Indonesia. Didorong oleh sentimen nasionalis Indonesia dan didukung oleh simpatisan dari Jepang seperti Laksamana Maeda. Dalam hal Maeda, ia bahkan mendirikan sebuah forum diskusi yang disebut "Kemerdekaan Indonesia Centre" dan mengundang Hatta serta Soekarno untuk memberikan kuliah tentang nasionalisme. Hal ini diikuti pada bulan April 1945, dengan pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). BPUPKI akan bertemu selama tiga bulan ke depan dan akan memutuskan hal-hal seperti konstitusi dan wilayah yang akan menjadi bagian dari Indonesia. 
H.Jepang Menyetujui Kemerdekaan Indonesia.
Pada bulan Agustus 1945, Jepang akhirnya menyetujui kemerdekaan Indonesia dan membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Tanggal 8 Agustus 1945, Hatta dan Sukarno dipanggil ke Saigon, untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi, panglima pasukan Jepang di Asia Tenggara. Terauchi mengatakan kepada Hatta dan Soekarno bahwa PPKI akan terbentuk pada 18 Agustus dan bahwa Indonesia akan merdeka dengan pengawasan Jepang.
I.Jelang Kemerdekaan.
Hatta dan Soekarno kembali ke Indonesia pada 14 Agustus. Dalam hal Hatta, Sutan Sjahrir sudah menunggunya dengan berita tentang bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Sjahrir mengatakan kepada Hatta bahwa mereka harus mendorong Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia segera, karena dalam beberapa hari orang Jepang mungkin tidak ada untuk memberikan pengawasan. Sjahrir mengatakan Hatta tidak perlu khawatir tentang pemerintah Jepang karena rakyat akan berada di pihak mereka.
Sjahrir dan Hatta kemudian pergi menemui Soekarno, dimana Syahrir mengulangi argumennya di depan Soekarno. Hatta kemudian berbicara, mengatakan bahwa dia khawatir Sekutu akan melihat mereka sebagai kolaborator Jepang. Soekarno juga punya perasaan ini dan Syahrir meninggalkan rapat karena frustrasi.
Hari berikutnya pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu. Di Indonesia, berita itu hanya rumor dan belum dikonfirmasi. Hatta dan Soekarno pergi ke kantor pemerintah Jepang di Jakarta, dan menemukan kantor itu telah kosong. Hatta dan Soekarno kemudian pergi ke Maeda yang menegaskan bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Hatta dan Soekarno tampak terkejut bahwa Jepang telah menyerah. Selama siang hari, Hatta dan Soekarno berhadapan dengan pemuda Indonesia yang menginginkan kemerdekaan untuk diikrarkan sesegera mungkin. Sebuah perdebatan panas terjadi, dan Soekarno meminta para pemuda untuk lebih sabar.
Pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda Indonesia menculik Hatta dan Soekarno, dan membawa mereka ke Rengasdengklok. Disini para pemuda terus berusaha untuk memaksa Hatta dan Soekarno menyatakan kemerdekaan, tetapi tidak berhasil. Di Jakarta terjadi kepanikan, dimana PPKI telah memulai pertemuan hari itu dan merencanakan untuk memilih Soekarno sebagai ketua dan Hatta sebagai wakil ketua. Ketika informasi tentang keberadaan Hatta dan Soekarno diketahui dan penyerahan Jepang telah dikonfirmasi, Achmad Subardjo, seorang anggota PPKI pergi ke Rengasdengklok untuk menjemput Hatta dan Soekarno. Malam itu, Hatta dan Sukarno kembali ke Jakarta menuju rumah Maeda. Di rumah ini mereka menyusun teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10 waktu Jawa, Hatta bersama Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sehari kemudian, secara aklamasi ia diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, mendampingi Soekarno yang menjadi presiden RI. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut dwitunggal, Bapak Proklamator Indonesia.


Setelah ditunjuk sebagai wakil presiden RI dalam sidang PPKI, Hatta membuat tiga keputusan penting pada masa awal kelahiran republik. Pada bulan Oktober, Hatta membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang berperan sebagai lembaga legislatif, selain sebagai penasehat presiden. Pada bulan yang sama, Hatta juga mengeluarkan maklumat pembentukan partai politik di Indonesia. Bulan berikutnya, Hatta juga membuat keputusan yang mengambil peran presiden sebagai kepala pemerintahan kepada seorang perdana menteri.

Ketika Belanda mulai mengirimkan pasukan mereka kembali ke Indonesia, Hatta bersama dengan Sjahrir dan Soekarno sepakat untuk melakukan perundingan dengan pihak Belanda. Hal ini menyebabkan ketegangan dengan unsur-unsur radikal dalam pemerintahan, seperti pemimpin para pemuda : Chaerul Saleh dan Adam Malik. Pada bulan Januari 1946, Hatta dan Soekarno pindah ke Yogyakarta, meninggalkan Sjahrir (yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri) untuk memimpin perundingan di Jakarta.
Pada November 1946 ditandatangani Perjanjian Linggarjati, yang berisi pengakuan Belanda atas Republik Indonesia. Namun pengakuan Belanda hanya untuk wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura. Selain wilayah itu, republik ini akan menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat dengan Ratu Belanda selaku kepala negara. Namun sebelum kesepakatan itu akhirnya diratifikasi oleh Dewan Perwakilan Belanda, beberapa kompromi dibuat tanpa persetujuan pihak republik. Akhirnya Indonesia menolak untuk melaksanakan bagian dalam kesepakatan itu, sehingga terjadi Agresi Militer Belanda I pada bulan Juli 1947.
Pada masa ini Hatta dikirim ke luar negeri untuk mencari dukungan bagi Indonesia. Menyamar sebagai ko-pilot pesawat, Hatta menyelinap ke India untuk meminta bantuan. Disana ia meminta dukungan Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru meyakinkannya bahwa India akan mendukung Indonesia di forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pada bulan Desember 1947, diadakan perundingan di atas kapal USS Renville, dan perjanjian ditandatangani pada Januari 1948. Perjanjian ini lebih menguntungkan pihak Belanda, dimana Belanda menyerukan kepada pihak republik untuk mengakui wilayah-wilayah yang telah diambil Belanda selama Agresi Militer I. Perjanjian ini menyebabkan kemarahan banyak pihak dan memaksa Amir Syarifuddin untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri.
Untuk menggantikan Syarifuddin, Soekarno menunjuk Bung Hatta sebagai Perdana Menteri dan menyatakan bahwa kabinet akan bertanggung jawab kepada Presiden, bukan KNIP. Pada saat yang sama Bung Hatta juga mengemban posisi sebagai Menteri Pertahanan. Sebagai Perdana Menteri, Bung Hatta harus membuat keputusan tidak populer. Pada bulan Agustus 1948, Bung Hatta terpaksa melakukan demobilisasi beberapa prajurit.
Pada bulan Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II dan fokus serangan mereka adalah Yogyakarta. Bung Hatta dan Soekarno, bukannya melarikan diri untuk melakukan perang gerilya, namun memilih untuk tetap tinggal hingga akhirnya mereka ditangkap. Soekarno memberikan wewenang kepada Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), sebelum pergi ke pengasingan di Pulau Bangka dengan semua pemimpin republik lainnya, termasuk Bung Hatta.
Perlawanan di bawah Jenderal Sudirman dan pasukan TNI, menyebabkan Belanda mendapatkan tekanan internasional. Pada bulan Mei 1949, Perjanjian Roem-Roijen ditandatangani dan Belanda berjanji untuk mengembalikan para pemimpin yang mereka tangkap. Pada bulan Juli 1949, Bung Hatta dan Soekarno kembali ke Yogyakarta.
Pada bulan Agustus 1949, Bung Hatta memimpin delegasi ke Den Haag untuk Konferensi Meja Bundar (KMB). Pada bulan November 1949, pembentukan Republik Indonesia Serikat akhirnya disetujui. Ratu Belanda akan terus menjadi kepala negara simbolis, sementara Bung Karno dan Bung Hatta tetap sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pada tanggal 27 Desember 1949, pemerintah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia. Wakil Presiden Bung Hatta dan Ratu Juliana menandatangani pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
Setelah KMB, Bung Hatta melanjutkan jabatannya sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat dan memimpin transisi dari negara federal kepada negara kesatuan, yang akhirnya resmi terbentuk pada tanggal 17 Agustus 1950.

Bung Hatta : Iwan Fals

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…
JIKA masih hidup, dan diminta melukiskan situasi sekarang, Mohammad Hatta hanya akan perlu mencetak ulang tulisannya 48 tahun lalu: “Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. “Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.” Hampir tidak ada yang perlu diubah-kalimat demi kalimat, kata demi kata.

Krisis politik, ekonomi, dan konstitusi. Krisis serupa yang ditulis Hatta itu kini menghantui Indonesia lagi, setengah abad setelah Megawati Sukarnoputri menyimpan boneka mainannya, Amien Rais tak lagi bermain gundu, dan Jenderal Endriartono Sutarto menukar ketapel karetnya dengan senapan M-16. Tidak ada yang baru di kolong langit, kata orang. Sejarah adalah repetisi pengalaman-pengalaman. Tapi, jika Indonesia terperosok ke lubang hitam yang sama secara telak, mungkin karena bangsa ini tidak benar-benar belajar dari sejarah yang benar. “Belajarlah dari sejarah”. Sukarno mengatakan hal itu. Soeharto bicara yang sama.
Masalahnya adalah sejarah yang mana. Sejarah, apa boleh buat, telah lama menjadi ladang perebutan ideologi dan kepentingan. Dan Hatta adalah seorang pecundang, yang kalah, dalam perebutan itu. Pada 1960-an, tulisan Hatta berjudul Demokrasi Kita itu dinyatakan sebagai bacaan terlarang. Buya Hamka, pemimpin majalah Pandji Masjarakat yang memuat tulisannya, dipenjarakan. Sementara itu, pemerintah Orde Baru menyusutkan citranya sekadar sebagai “Bapak Koperasi”-citra sempit yang mengerdilkan keluasan pikirannya. Dan kini, setelah lebih dari satu abad kelahirannya, sebagian besar pikiran Hatta masih tercampak dalam buku-buku penghuni sudut sempit perpustakaan berdebu. Tapi, makin dilupakan, pikiran Hatta makin jernih dan nyaring kedengarannya. Lihatlah bagaimana Demokrasi Kita tetap relevan setelah sekian lama. Di situ Hatta menawarkan keseimbangan menghadapi situasi resah di awal kemerdekaan. Seperti sekarang, Indonesia setengah abad lalu menawarkan optimisme yang diwarnai euforia politik dan kebebasan. Namun, Proklamasi 1945, mirip dengan reformasi 1998, ternyata juga menjadi pembuka “kotak Pandora” seperti dikisahkan dalam mitos Yunani Kuno.
Gajah pergi meninggalkan gading. Tapi ia tak memilih bagaimana gading itu diukir. Generasi datang dan pergi, membentuknya, menatahnya, dan menimbang-nimbangnya. Mungkin mencampakkannya. Seorang besar memperoleh arti karena beribu-ribu orang yang tak dikenal datang sebelumnya, bersamanya, sesudahnya.
Dua puluh tahun sebelum “Demokrasi Terpimpin” dan “Orde Baru”, Bung Hatta-lah yang pada bulan Juni 1945 itu memperingatkan akan kemungkinan lahirnya “negara kekuasaan” dengan retorika “keamanan nasional”. Sebab itu kau usulkan agar hak-hak asasi ditegakkan. Tiga puluh tahun sebelum tentara Indonesia dikirim untuk “mengambil” Timor Timur, Bung Hatta juga suara yang paling pagi memperingatkan akan bahaya “imperialisme” dari diri sendiri. Kenapa, Bung? Kau bukan ahli nujum. Tapi mungkin karena nasionalisme-mu, seperti nasionalisme  Si Buruh Loyok, adalah suara solidaritas.
Ketika wafat pada 1980, Hatta meninggalkan “30 ribu judul buku” dalam perpustakaan pribadi, sebagai warisannya yang termahal. Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikannya mutiara yang langka di antara deretan pemimpin Indonesia masa kini maupun lampau. Tapi dia lebih langka lagi sebagai negarawan yang menulis. Dengan begitu luas sumbangannya, dan begitu bernas pikirannya, adakah cara lebih baik untuk  memahami tokoh besar Bangsa Indonesia Bung Hatta kecuali dengan membaca kembali buku-bukunya? Dengan mengikuti tamasya sejarahnya?



Kapanlagi.com - Di dalam buku KISAH LAINNYA diceritakan bahwa para personel NOAH saat remaja merupakan penggemar musik alternative 90-an, termasuk The Cranberries. Selain itu, Ariel juga menyebut dirinya sebagai anak grunge yang menggemari Nirvana, Uki adalah fans Oasis, Lukman sibuk mempelajari musik Mr Big, David terpengaruh musik jazz, sedangkan Reza lebih gemar mendengarkan musik yang lebih cadas. Lalu seberapa besar pengaruh band-band tersebut terhadap NOAH? "Secara enggak langsung kali ya. Karena secara individu yang saya tahu mereka sangat terinspirasi dari The Cranberries. Jadi lagu yang diciptakan oleh dia (Ariel) ada arah ke sana," ujar Uki ketika interview secara ekslusif dengan KapanLagi.com® beberapa waktu lalu.
"Jadi diharapkan sih dari pengaruh lima individu yang ada di NOAH, mampu menciptakan sesuatu yang mewakili kami semua, terlepas dari perbedaan yang ada pada kami," tambah Uki.
Reza yang saat itu duduk paling ujung menambahkan jika warna musik NOAH sebenarnya saling berhimpitan. "NOAH juga memiliki warna yang saling berhimpitan dari kita semua sih," sahut Reza.
Kegemaran Reza mendengarkan musik Amerika dengan genre metal pun membuat musik NOAH makin berwarna. Menurut Uki, itulah salah satu faktor mengapa musik NOAH tidak membosankan untuk didengar.
"Iya kaya Reza ini kan lagu yang dia dengerin agak ekstrem dan beda dengan kami. Ya di situ sih bagusnya juga. Kalau semuanya sama jadinya pasti kurang berwarna dan agak membosankan," jelas Uki lagi.

Use time in the best possible